by

SAD di Merangin Tewas oleh ‘Kecepek’, Senjatanya Sendiri

HALUANJAMBI.CO, JAKARTA – Senjata makan tuan, mungkin ungkapan itu tepat ditujukan kepada Mandri salah satu warga Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Merangin, Jambi.

Bagaimana tidak, Mandri tewas dengan bersimbah darah diduga setelah senjata rakitan jenis kecepak miliknya meletus mengenai kepalanya.

Peristiwa itu terjadi pada saat Mandri mengendarai sepeda motor dijalan jalur tiga di Desa Sungai Ulak, Kecamatan Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, Jambi tiba-tiba ia terjatuh.

Nahasnya, bersamaan itu senjata yang disandangnya meletus tepat mengenai kepalanya. Ia pun tewas mengenaskan dengan bersimbah darah.

Sontak saja, warga disekitar kejadian mendengar suara ledakan itu kaget dan mencari tau keberadaan suara tersebut.

“Kita lihat ada orang terjatuh dari motor dengan kondisi mengenaskan dengan kepala penuh darah sambil menyandang senjata,” ujar Buyung, salah satu warga sekitar, Jum’at (26/6/20).

Kapolres Merangin AKBP M Lutfi S.IK melalui Kasat Reskrim AKP Dhadhag Anindito berujar bahwa korban adalah Suku Anak Dalam di Merangin dari kelompok Temenggung Tampung.

“Menurut keterangan beberapa saksi di TKP bahwa korban ini terjatuh dari kendaraan yang ia bawa sendiri dan di saat terjatuh senjata yang ia bawa tersebut meletus hingga mengenai tubuh bagian kepala Korban,” ungkap Kasatreskrim.

Namun, korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Bangko, Merangin oleh anggota Polantas Merangin yang pertama kali menangi korban tersebut.

“Oleh pihak Lantas Korban akhirnya di bawa kerumah Sakit dan selanjutnya kami menghubungi pihak Dinas Sosial yang bisa menghubungi pihak keluargan SAD tersebut,” tandasnya.

Diketehui, SAD merupakan suku asli Jambi yang mendiami hutan pedalaman Jambi. Tradisi kehidupannya biasa berburu untuk menyambung hidup dihutan.

Alat tradisi untuk berburu mereka salah satunya adalah menggunakan ‘kecepek’ senjata rakitan selain dari lapun (alat perangkap babi, rusa yang terbuat dari kawat).

Namun, semenjak pembukaan hutan secara besar-besaran oleh pihak koorporasi keberadaan mereka semakin terdesak, hutan bukan lagi menjadi tempat mereka menyambung hidup.

Tak jarang pula mereka dijumpai diperkotaan sebagai pengemis, keberadaan merekapun oleh sebagian orang dianggap telah mengganggu.

Penulis: Budi Harto

Facebook Comments

News Feed