by

WHO Hentikan Riset Hydroxychloroquine, Jerman Yakin Bisa Lanjutkan

HALUANJAMBI.CO – Universitas di Jerman menghentikan riset klinis obat anti-malaria hydroxychloroquine untuk Covid-19. Namun, penghentian uji coba yang merupakan kedua kalinya ini kemungkinan bersifat sementara.

Mengapa ini penting: Hydroxychloroquine digembar-gemborkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pejabat lainnya sebagai pengobatan potensial untuk penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Trump mengaku mengonsumsi obat tersebut untuk membantu mencegah infeksi.

Konteks: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pekan ini memutuskan untuk menghentikan uji coba besar hydroxychloroquine karena masalah keamanan.

Apa katanya: “Kini kami mungkin menghentikan riset selama dua pekan. Selanjutnya, dilakukan evaluasi apakah riset tersebut akan dilanjutkan,” kata Peter Kremsner, Direktur Medis Tuebingen University Hospital seperti dilansir Spiegel, dikutip dari Antara, Jumat (29/5/2020).

Alasan WHO hentikan riset:

• Pasien Covid-19 yang menerima pengobatan dengan hydroxychloroquine kemungkinan besar mengalami gagal jantung dan meninggal dunia seperti dilaporkan The Lancet.

• Agen obat-obatan di Prancis dan Italia mengatakan, obat anti-malaria itu tidak boleh digunakan untuk pasien Covid-19 di luar uji klinis.

• Badan obat-obatan AIFA mengatakan, bukti klinis baru tentang penggunaan hydroxychloroquine pada subjek dengan infeksi SARS-CoV-2 menunjukkan peningkatan risiko reaksi yang merugikan dengan sedikit atau tanpa manfaat.

Baca juga: WHO: Belum Waktunya Negara Lakukan Pelonggaran

Alasan Jerman tetap akan lanjutkan: Menurut Kremsner, ia tidak memiliki indikasi efek samping yang mungkin berhubungan dengan hydroxychloroquine. Ia yakin, obat tersebut mungkin dalam beberapa kasus digunakan pada pasien, meski risiko efek sampingnya sangat tinggi.

“Saya yakin bahwa kami dapat melanjutkan uji coba,” ungkapnya.

Negara yang setop gunakan: Pemerintah di tiga negara Eropa menghentikan penggunaan hydroxychloroquine bagi pasien Covid-19. Yakni Prancis, Italia, dan Belgia. Mereka mengikuti keputusan WHO.

Penulis: Neni Isnaeni

Facebook Comments

News Feed