by

Tips Keluar dari Jerat Utang

KIAT – Disadari atau tidak, persoalan utang nyatanya dapat menambah beban psikologis dan menimbulkan pengaruh buruk terhadap pola pikir seorang debitur atau orang yang berutang.

Sebab, jika seorang debitur berada pada situasi di mana ia tak memiliki kemampuan finansial untuk membayar utangnya, maka hal itu dapat menimbulkan hal-hal negatif pada dirinya dan keluarga.

Tak heran, seseorang yang terlilit hutang dengan jumlah besar kerap mengalami depresi. Bahkan, yang terburuk adalah berpikir pendek dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Menurut Perencana Keuangan Zelts Consulting Ahmad Gozali, beban terberat seseorang yang terjerat utang, biasanya muncul karena rasa malu pada keluarga atau orang terdekat saat tak mampu mengatasi masalah tersebut.

Semakin berlarut, masalah yang tidak teratasi itu akan memuncak dan akan menimbulkan masalah psikologis.

Karenanya, kata Gozali, jika sudah terlsnjur terjerat utang, solusi paling utama adalah meminta dukungan dari keluarga dan orang terdekat.

Dia menyarankan, hendaknya seorang debitur mau mengakui masalah yang sedang dihadapi dan mecoba bertukar pikiran dengan keluarga atau orang terdekat untuk mendapat dorongan moral dalam menyelesaikan masalah utang tersebut dengan cara yang bijak dan benar.

“Dengan cara itu, setidaknya kita jadi mengakui ada yang salah dengan cara kita kelola uang, ada yang salah sampai-sampai terjerat hutang seperti itu. Jika masalah ini dipendam sendirian, kadang yang terjadi adalah penyangkalan,” katanya Gozali dilansir haluanjambi.co dari CNNIndonesia.com, Sabtu (30/11/2019).

Meski sulit, Gozali menegaskan, di balik peliknya setiap permasalahan utang terdapat solusi.

Untuk mengatasi persoalan utang, menurutnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan, pertama adalah memperioritaskan pembayaran cicilan saat menerima penghasilan.

Dalam hal ini, sangat penting untuk menurunkan ego supaya cicilan utang bisa dibayar. Artinya, seseorang yang memiliki utang harus berani mengurangi standar agar kewajiban membayar utang bisa segera dilunasi.

Kata Gozali, tak ada salahnya juga menggarap kerja sambilan untuk mendapatkan tambahan penghasilan demi membayar utang.

“Utang itu ibarat ‘pendarahan’, harus di-stop dulu pendarahannya sebelum diobati lukanya,” paparnya.

Ia melanjutkan, kalau pendarahannya tak kunjung berhenti, maka jalan lainnya adalah ‘amputasi’.

“Dalam hal ini berarti menjual aset agar utangnya bisa lunas, atau minimal berkurang dengan signifikan,” ucapnya.

Melepas sebagian aset yang dimiliki seperti perhiasan, barang elektronik maupun otomotif untuk membayar utang patut untuk dipertimbangkan.

Kemudian, tidak dianjurkan; menutup utang dengan melakukan pinjaman lain alias “gali lubang tutup lubang”.

Pasalnya,pola itu justru akan merugikan si debitur lantaran utangnya makin menumpuk.

Kalau pun terpaksa menambah utang, akan lebih baik meminta bantuan kepada keluarga atau orang terdekat. Alasannya, bunga dari pinjaman keluarga maupun orang terdekat cenderung lebih ringan bahkan tanpa bunga dibandingkan dengan pinjaman dari lembaga jasa keuangan resmi.

Yang perlu diingat, adalah jangan sekali-kali mencoba meminjam uang kepada rentenir, meski uang lebih cepat cair namun bunga yang dibebankan akan sangat mencekik.

Bagi orang yang berprofesi sebagi karyawan, patut dipertimbangkan pula mengajukan pinjaman kepada perusahaan dengan metode pembayaran melalui pemotongan gaji secara otomatis tiap bulannya usai gajian.

Dalam hal ini, tentu dibutuhkan keterbukaan antara pegawai dengan manajemen kantor. Sebab, jika orang sudah memiliki utang, maka rasa panik dan emosi akan mempengaruhi kinerja.

Panik dan emosi itu, akan membuat seseorang tak mampu berpikir secara jernih, dan mengakibatkan keputusasaan.

Facebook Comments

News Feed